Apakah Black Hole Bermassa 100 Mili「Online betting platform」ar Matahari Benar

  • 时间:
  • 浏览:0
  • 来源:Betting

AsOOnline betting platformnline betting platformumsi konvensional menOnline betting platformgatakan, black hole suOnline betting platformpermasif di jantung galaksi terbentuk saat black hole yang lebih kecil bergabung dan menelan materi di sekitarnya.

Baca juga: Rahasia Alam Semesta: Bagaimana Lubang Hitam Terbentuk di Galaksi?

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.

Daftarkan email

Meski hingga saat ini belum ada catatan yang membuktikan bahwa black hole raksasa tersebut nyata, para ilmuwan yakin bahwa black hole supermasif dengan ukuran hampir sebesar itu memang ada.

Penemuan black hole raksasa dapat menjelaskan sifat dari sebagian besar materi gelap misterius yang menyusun empat per lima materi di alam semesta.

Namun, penelitian sebelumnya menemukan bahwa anggapan ini kesulitan menjelaskan bagaimana black hole bisa berukuran super masif ketika alam semesta baru berusia beberapa miliar tahun.

KOMPAS.com – Para ilmuwan mengatakan bahwa black hole atau lubang hitam bisa mencapai ukuran yang sangat besar dengan massa 100 miliar matahari atau lebih.

Baca juga: Misteri Luar Angkasa, Apa yang Ada di Dalam Lubang Hitam?

Dalam sebuah studi baru, peneliti menjuluki black hole yang memiliki massa 100 miliar matahari dengan sebutan SLAB.

Ada spekulasi yang mengatakan, dalam satu detik setelah Big Bang, fluktuasi acak kepadatan di alam semesta baru lahir, yang panas dan berkembang pesat, mungkin telah memusatkan kantong materi yang cukup untuk runtuh ke dalam black hole.

Adapun black hole terbesar yang diketahui hingga saat ini adalah TON 168 dengan massa 66 miliar matahari.

TON 168 memiliki massa yang luar biasa besar sehingga para ilmuwan berpikir, apakah ada black hole yang lebih besar? Apakah ada batas untuk ukuran black hole?

“Mengejutkan bahwa hanya sedikit perhatian yang diberikan pada kemungkinan keberadaan black hole yang sangat masif karena pada prinsipnya mereka bisa nyata,” ujar Florian Kühnel, ahli kosmologi teoritis di Universitas Ludwig Maximilian, Munich, dilansir dari Space.com.